Padahal, Desa Mepar memiliki potensi besar sebagai desa wisata dan bahkan telah masuk dalam nominasi 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Namun tanpa dukungan listrik yang memadai, potensi tersebut terancam tidak dapat berkembang secara optimal.
Kepala Desa Mepar, Handoyo, mengatakan bahwa pemadaman listrik telah terjadi sejak lebaran ketiga dan hingga kini belum kembali normal. Ia menyebutkan bahwa selama ini listrik di desa tersebut hanya menyala selama 14 jam, yakni dari pukul 17.00 hingga 07.00 WIB.
“Di Desa kita sudah dua hari tidak ada listrik, masyarakat pun sudah pada mengeluh. Padalah listrik kita hanya nyala 14 jam, ini malah tidak menyala sama sekali,” kata Handoyo, Rabu 25 Maret 2026.
Menurutnya, kondisi mesin pembangkit yang ada saat ini memang sudah tidak layak dan kerap mengalami kerusakan. Namun pada kejadian kali ini, mesin bahkan tidak dapat beroperasi sama sekali.
“Kondisi mesin yang ada memang tidak layak,” ujarnya.
Warga kini menunggu keberanian pemerintah daerah dan PLN untuk bertindak nyata. Mereka menuntut layanan listrik yang stabil sebagai hak dasar, bukan sekadar janji yang terus berulang tanpa realisasi.

















