Jejak Sejarah Ketupat: Tradisi Sakral yang Tak Pernah Absen di Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Sejarah

Berita Lingga1 Dilihat

Dari Simbol Kesucian hingga Sajian Khas Melayu, Ketupat dan Sambal Lengkong Jadi Warisan Budaya yang Terus Hidup di Tengah Masyarakat

Infolingga.com | • Budaya – Setiap kali gema takbir berkumandang menyambut Hari Raya Idul Fitri, satu hal yang hampir tak pernah absen dari setiap rumah umat Muslim adalah ketupat.

banner 336x170

Di tahun 2026 atau 1447 Hijriah ini, tradisi tersebut kembali hidup, mengisi meja-meja makan dengan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar hidangan.

Ketupat bukan hanya makanan. Ia adalah simbol. Sebuah warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam sejarah panjang peradaban Islam di Nusantara.

Konon, tradisi ketupat mulai dikenal luas sejak masa Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang menggunakan ketupat sebagai media dakwah.

Anyaman janur yang membungkus nasi di dalamnya bukan sekadar bentuk estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan manusia.

Janur yang dianyam melambangkan kerumitan kesalahan manusia, sementara isi ketupat yang putih bersih menggambarkan hati yang kembali suci setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tak heran jika ketupat kemudian identik dengan Hari Kemenangan, Idul Fitri.

Di berbagai daerah, termasuk di wilayah Melayu seperti Kabupaten Lingga dan sekitarnya, ketupat hadir bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga bagian dari identitas kuliner lokal.

Yang membuatnya semakin istimewa adalah kehadiran sambal lengkong, sajian khas Melayu berbahan dasar daging ikan yang dimasak dengan bumbu rempah yang kaya rasa.

Perpaduan antara ketupat yang lembut dengan sambal lengkong yang gurih dan pedas menciptakan cita rasa yang menggugah selera, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam setiap suapan.


banner 500x204
Baca Juga :   SPMB SMAN 1 Singkep Berjalan Lancar, 252 Siswa Diterima

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *