Hidup Terlantar Tanpa Orang Tua, Sugih Mengalami Penurunan Hb Dan Harus Menjalani Transfusi Darah

Kisah pilu seorang remaja asal pulau Senayang, Kabupaten Lingga yang bernama Sugih (13) hidup sebatang kara. Saat ini kondisi Sugih dalam keadaan sakit dan di rawat di RSUD Dabo Singkep

Infolingga.com – Sugih, seorang remaja berusia 13 tahun sehari-hari menjalani hidup tanpa orang tua. Berbeda dengan rekan-rekan seusianya yang mendapat kasih sayang dari orang tua, Sugih harus melanjutkan hidupnya sebatang kara.

Sugih merupakan seorang remaja yang tinggal di Pulau Senayang, Kabupaten Lingga. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya hilang tanpa kabar sudah sejak lama.

banner 336x170

Semenjak lulus di bangku Sekolah Dasar (SD), sugih tidak lagi melanjutkan pendidikannya. Beban berat menjalani hidup sebatang kara dan tanpa perhatian dari siapapun menjadikan kondisi fisik sugih lemah dan jatuh sakit.

Pada malam pergantian tahun 31 Desember 2025, warga menemukan sugih dalam kondisi lemas dan sakit sehingga warga membawa sugih ke RSUD Dabo menyebrangi laut.

Sesampainya di RSUD Dabo Singkep, tubuh sugih masih dalam kondisi lemas. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, ternyata Sugih mengalami penurunan Hemoglobin (Hb) dan harus melakukan transfusi darah.

Setelah enam hari mendapkan perawatan medis di RSUD Dabo Singkep, kondisi Sugih sudah mulai menunjukkan tanda-tanda membaik.

Iwan, alah seorang warga Senayang yang menemani Sugih sejak hari pertama dibawa ke RSUD Dabo Singkep mengungkapkan bahwa proses membawa Sugih ke rumah sakit dilakukan secara darurat, dibantu warga dan pihak kelurahan.

“Kami bawa ke sini itu pas malam tahun baru. Kondisinya waktu itu lemas sekali,” ujar Iwan, Selasa (6/1).

Ia mengatakan, dalam dua hari terakhir kondisi Sugih mengalami peningkatan signifikan.

“Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Sudah bisa jalan, bisa turun dari tempat tidur, keluar duduk,” katanya.

Sugih diketahui merupakan warga asli Pulau Senayang. Setelah ibunya meninggal, keberadaan ayah kandungnya tak lagi diketahui. Warga setempat juga tidak bisa memastikan di mana ayah Sugih berada hingga saat ini.

Baca Juga :   Dua Atlet Pelajar Silat SMI Lingga Jalani Pemusatan Latihan untuk POPNAS 2025

Meski sempat disebut tinggal bersama pamannya, Sugih pada akhirnya diketahui tidak berada dalam pengasuhan keluarga. Ia hidup dalam kondisi terlantar, tanpa pendamping tetap, hingga kesehatannya memburuk.

Proses evakuasi Sugih ke rumah sakit dilakukan dengan pendampingan pihak Kelurahan Senayang bersama warga. Mereka mengupayakan agar Sugih mendapatkan perawatan medis sesegera mungkin, mengingat kondisi fisiknya yang semakin melemah.

Selain penanganan medis, Sugih kini juga mendapat pendampingan dari pemerintah daerah. Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Lingga, Siti Noraziah, mengatakan pihaknya fokus mendampingi Sugih selama masa pemulihan.

“Saat ini kami dari PPA masih melakukan pendampingan terhadap Sugih dalam proses pemulihannya. Fokus kami sekarang adalah memastikan kesehatannya,” ujar Siti Noraziah.

Pendampingan tersebut, menurutnya, akan terus dilakukan sembari berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah lanjutan setelah Sugih dinyatakan stabil secara medis


banner 500x204

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *