TP PKK: Garda Terdepan di Akar Rumput
Ketua TP PKK Kabupaten Lingga, Ny. Maratusholiha Nizar, yang juga hadir dalam forum tersebut, berbicara dari sudut pandang akar rumput. Ia menyampaikan bahwa kader-kader Posyandu dan PKK di tingkat desa telah bekerja keras, namun perlu dukungan konkret.
“Kami butuh alat ukur tinggi dan berat yang layak. Butuh pelatihan kader secara berkala. Butuh transportasi untuk menjangkau rumah-rumah di pelosok. Jangan sampai kader di lapangan kehabisan semangat hanya karena minim dukungan,” ujarnya.
Maratusholiha juga mengangkat pentingnya peran ibu dalam keluarga. Ia mengatakan bahwa edukasi gizi, kebersihan lingkungan, dan pola asuh perlu terus dikuatkan melalui kelas-kelas ibu balita dan ibu hamil.
“Seringkali stunting terjadi bukan karena kemiskinan semata, tapi karena kurang pengetahuan. Maka PKK hadir untuk menjembatani itu,” ujarnya, sambil menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan.
Menengok Angka dan Fakta: Di Mana Posisi Lingga?
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga mencatat bahwa pada tahun 2024, prevalensi stunting di Lingga masih berada di kisaran 20,4 persen—angka yang meskipun menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun masih di atas ambang batas ideal WHO yaitu 20 persen.
Beberapa wilayah seperti Kecamatan Lingga Timur, Singkep Barat, dan Senayang masih menjadi titik merah, di mana kasus anak balita dengan status gizi buruk dan sangat pendek lebih dominan.
Kepala Dinas Kesehatan Lingga, dr. Reni Safitri, dalam paparannya menjelaskan bahwa tantangan utama adalah faktor geografis, minimnya akses transportasi ke pulau-pulau kecil, dan budaya lokal yang masih menormalisasi kondisi anak bertubuh pendek sebagai faktor keturunan.

















